Bupati Masinton Pasaribu: Tapteng Ibarat Keluarga Miskin Ekstrem

PANDAN – Bupati Masinton Pasaribu mengungkap, Kabupaten Tapanuli Tengah (Tapteng) ibarat sebuah keluarga besar dan dia sebagai kepala rumah tangganya.

“Karena kita sudah menggunakan data tunggal sosial ekonomi nasional (Satu Data Indonesia/SDI), Tapteng masuk dalam keluarga kategori desil 1 atau miskin ekstrem,” kata Masinton Pasaribu di acara Paskah Oikumene Pemkab Tapteng, Sabtu (3/5/2025).

Dijelaskan, keluarga yang masuk dalam kategori desil 1 adalah keluarga dengan tingkat kesejahteraan paling rendah, yaitu keluarga yang berada dalam kelompok 10% terendah secara nasional.

Berangkat dari keprihatinan itu, tanpa mengurangi makna setiap kegiatan, pihaknya selalu mengupayakan sesederhana mungkin.

“Termasuk dalam perayaan Paskah ini. Begitu pun kemarin saat perayaan Idulfitri, kita buat sesederhana mungkin,” kata Masinton.

Tapanuli Tengah sebagai keluarga miskin tidak boleh berpesta dan hura-hura. Karena itu tidak mencerminkan sebagai keluarga yang tahu diri.

“Sebagai kepala keluarga, kami nggak ingin hura-hura. Pemimpin itu adalah teladan, maka dia harus bisa menjadi contoh untuk anggota keluarganya,” katanya.

Dia pun mencontohkan, tidak mengadakan mobil dinas baru untuk bupati dan wakil bupati. Tetapi memilih mobil yang telah ada saja agar anggarannya bisa digunakan untuk kepentingan rakyat.

“Kalau kami tidak beli mobil, maka dinas yang lain juga nggak akan berani mengajukan pembelian mobil baru,” kata Masinton.

Menurut Masinton, Tapanuli Tengah terdapat sejuta persoalan, dan tugas kepala daerah adalah mengatasi semua persoalan yang ada.

“Kami harus mengatasi persoalan itu secara jeli, komprehensif dan utuh. Begitu pula mengatasi kemiskinan, tidak bisa hanya dengan gaya Sinterklas, bagi sana, bagi sini, tidak cukup hanya itu,” katanya.

Kepedulian berbagi memang dibutuhkan, tetapi hanya kepada kelompok-kelompok rentan, namun itu harus tingkatkan pada level pemberdayaan.

“Ke depan kita akan memfasilitasi pelaku UMKM, petani dan lainnya agar kita bisa keluar dari zona desil 1, yaitu zona miskin ekstrem,” katanya.

Masinton menjelaskan, Paskah dimaknai sebagai sebuah kemenangan, bahwa kebangkitan Yesus adalah bukti bahwa DIA telah mengalahkan kematian dan dosa, membuka jalan bagi kehidupan kekal bagi umat manusia.

Paskah juga memberikan harapan dan pembaruan. Paskah ini harus menjadi momen refleksi bahwa tidak ada situasi yang terlalu gelap atau berat yang tidak bisa diubah.

“Sebagai keluarga miskin ekstrem, kita harus mampu keluar dan memberikan harapan baru untuk kehidupan yang lebih baik, bangkit dari keterpurukan, kesalahan dan masa lalu,” katanya.

Paskah juga bermakna kasih dan pengorbanan, kebangkitan Yesus tidak terlepas dari pengorbanannya di kayu salib.

Ini mengajarkan bahwa kasih sejati membutuhkan pengorbanan, tidak cukup hanya diucapkan, tapi kasih harus menjadi bagian dari hidup.

Hidup yang dijalani dengan kasih akan melahirkan pemulihan dan kedamaian. Paskah juga bermakna pengampunan dan rekonsiliasi.

“Manusia diajak untuk saling mengampuni dan berdamai, baik dengan sesama mau pun dengan diri sendiri,” katanya.

Paskah bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi ajakan bagi setiap orang untuk hidup dalam kebaikan dan menjauhi cara hidup lama yang penuh egoism.

“Maka kita maknai Paskah ini dengan semangat Tapteng Naik Kelas dan Adil untuk Semua, dengan kebersamaan dan semangat hidup baru,” katanya.

Penulis: Aris Barasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *